Caption : Prima Augusta, Ketua DPC HNSI Kabupaten Bangka Barat 2025-2030.
Mentok — Usia 292 tahun bukan sekadar angka bagi Mentok. Di balik perjalanan panjang kota tua di pesisir Bangka Barat itu, tersimpan sejarah masyarakat yang sejak dahulu menggantungkan kehidupan pada laut, pelabuhan, perdagangan, dan denyut ekonomi pesisir.
Momentum Harlah ke-292 Mentok tahun ini pun menjadi ruang untuk kembali melihat masa depan. Bukan hanya tentang bagaimana mengenang sejarah, tetapi bagaimana seluruh elemen masyarakat ikut mengambil bagian dalam membangun kota pesisir yang lebih maju, berdaya saing, dan tetap berpijak pada karakter maritimnya.
Pesan tersebut disampaikan Prima Augusta, Ketua DPC HNSI Kabupaten Bangka Barat periode 2025-2030. Menurutnya, pembangunan Mentok ke depan tidak bisa dilepaskan dari keberadaan masyarakat pesisir, khususnya nelayan yang selama ini menjadi bagian penting dari kehidupan sosial dan ekonomi daerah.
“Harlah Mentok bukan hanya momentum untuk mengenang perjalanan sejarah, tetapi juga menjadi kesempatan bagi kita semua untuk melihat ke depan. Kota ini memiliki potensi besar sebagai kota pesisir dan maritim,” ujar Prima.
Menurut Prima, laut bukan sekadar hamparan air yang berada di hadapan Mentok. Laut merupakan ruang hidup bagi masyarakat, sumber penghidupan nelayan, sekaligus bagian dari identitas daerah yang harus dijaga bersama.
Karena itu, ia mengajak masyarakat Mentok menjadikan momentum Harlah ke-292 sebagai titik untuk memperkuat kepedulian terhadap masa depan kawasan pesisir.
Membangun Kota, Menjaga Laut.
Prima menilai pembangunan daerah dan perlindungan lingkungan pesisir seharusnya berjalan beriringan. Pertumbuhan ekonomi tidak boleh mengorbankan ruang hidup masyarakat yang selama ini bergantung pada sumber daya laut.
Bagi nelayan, kata dia, laut adalah rumah sekaligus sumber kehidupan. Ketika kondisi laut terganggu, dampaknya bukan hanya terhadap lingkungan, tetapi langsung menyentuh dapur keluarga nelayan.
Karena itu, pembangunan Mentok membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, pelaku usaha, nelayan, pemuda, serta berbagai organisasi kemasyarakatan.
“Kalau kita ingin Mentok menjadi kota pesisir yang kuat, maka masyarakat pesisir harus ditempatkan sebagai bagian dari pembangunan. Nelayan jangan hanya dilihat sebagai penerima program, tetapi juga sebagai mitra dalam menentukan arah pembangunan,” tegasnya.
Dari Sejarah Menuju Masa Depan.
Mentok memiliki modal sejarah dan geografis yang tidak dimiliki semua daerah. Sebagai kawasan yang memiliki hubungan panjang dengan aktivitas maritim, kota ini memiliki peluang untuk mengembangkan potensi kelautan, perikanan, wisata pesisir, hingga ekonomi kreatif berbasis budaya lokal.
Namun, menurut Prima, potensi tersebut membutuhkan arah pembangunan yang konsisten.
Momentum Harlah ke-292, katanya, seharusnya tidak berhenti pada seremoni dan perayaan. Peringatan hari lahir kota harus menjadi pengingat bahwa generasi hari ini memiliki tanggung jawab untuk mewariskan Mentok yang lebih baik kepada generasi berikutnya.
“Yang kita bangun hari ini bukan hanya untuk kita. Anak-anak kita yang akan menikmati atau merasakan dampaknya di masa depan,” katanya.
Warga Pesisir Harus Menjadi Subjek.
DPC HNSI Bangka Barat juga mendorong agar kebijakan pembangunan kawasan pesisir semakin memberikan ruang bagi masyarakat lokal.
Keterlibatan nelayan, menurut Prima, penting agar pembangunan tidak kehilangan perspektif masyarakat yang sehari-hari beraktivitas di laut.
Ia berharap semakin banyak ruang dialog antara pemerintah dan masyarakat pesisir sehingga berbagai persoalan kelautan dapat dibahas secara terbuka dan menghasilkan solusi yang berkelanjutan.
“Mentok punya sejarah panjang. Tugas kita sekarang adalah memastikan sejarah itu tidak berhenti sebagai cerita masa lalu. Kita harus membangun masa depan Mentok bersama-sama,” ujarnya.
292 Tahun, Saatnya Menatap 292 Tahun Berikutnya.
Harlah ke-292 Mentok akhirnya bukan sekadar perayaan usia sebuah kota.
Ia menjadi pengingat bahwa sebuah kota tumbuh bukan hanya karena pembangunan fisik, tetapi juga karena masyarakat yang menjaga, menghidupkan, dan merawat ruang hidupnya.
Bagi Prima Augusta dan DPC HNSI Bangka Barat, masa depan Mentok harus tetap memiliki wajah pesisir: laut yang terjaga, nelayan yang sejahtera, ekonomi lokal yang tumbuh, serta masyarakat yang memiliki ruang untuk menentukan masa depannya sendiri.
Dari Mentok, dari pesisir, pembangunan masa depan itu semestinya dimulai dari kesadaran bersama: bahwa laut bukan sekadar batas kota, melainkan bagian dari jantung kehidupan masyarakat.






