Merajut persatuan dalam kebudayaan serta menjalin tali silaturahmi lintas generasi menjadi tema dalam pesta adat perang ketupat 2026 di Pantai Pasir Kuning, Kecamatan Tempilang, Kabupaten Bangka Barat, Minggu (8/2/26).

Kegiatan ini merupakan tradisi turun-temurun masyarakat Tempilang yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Ruah atau Sya’ban sebagai bentuk rasa syukur sekaligus upaya pelestarian budaya lokal.

Dihadiri langsung Kasdim 0431/Bangka Barat, Mayor Inf Subkhan yang mendampingi Gubernur Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang diwakili Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Babel Ibu Widia Kemalasari, Kasi Pers Korem 045/Gaya Letkol Inf A. Gani, Wakapolda Babel Brigjen Pol Murry.

Berikut forkopimda, Bupati Bangka Barat Markus, Wakil Bupati Bangka Barat H. Yusderahman, Binda Bangka Barat Indra, Sekda Bangka Barat M. Sholeh, Kakesbangpol Tantowi, Kadis Pariwisata Bangka Barat Fahriasah, Kapolres Bangka Barat AKBP Pradana Aditya Nugraha, Kapolsek Tempilang Ipda Deni, Kadisparbut Bapak M. Ali, Camat Tempilang Bapak Rusian.

Serta perangkat setempat, Ketua Panitia Tok Sahnan, Tokoh Adat Datok Keman, Tokoh Masyarakat Abdul Rahman, para kepala desa se-Kecamatan Tempilang, serta masyarakat dan tamu undangan lainnya.

Dalam sambutannya, Bupati Bangka Barat Markus menyampaikan bahwa Perang Ketupat merupakan tradisi masyarakat Tempilang yang telah dilaksanakan sejak tahun 1800 pada bulan Ruah atau Sya’ban. Rangkaian kegiatan diawali dengan Ngancak bertepatan dengan malam Nisfu Sya’ban, kemudian dilanjutkan Perang Ketupat pada hari ketujuh setelahnya.

“Setelah Perang Ketupat, masyarakat melaksanakan pantangan selama tiga hari, yaitu tidak boleh ke hutan dan tidak boleh menjemur pakaian di pagar depan rumah. Hal ini merupakan bagian dari kearifan lokal yang harus dijaga dan dilestarikan,” ujarnya.

Bupati juga menambahkan bahwa Perang Ketupat telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI sejak tahun 2014, serta terus dikembangkan menjadi event budaya berskala nasional.

Sementara itu, Camat Tempilang Bapak Rusian menyampaikan bahwa Pesta Adat Perang Ketupat merupakan simbol penghormatan terhadap leluhur serta wujud kesadaran masyarakat dalam menjaga nilai-nilai budaya dan kelestarian alam.

Kepala Dinas Pariwisata juga menegaskan bahwa Perang Ketupat bukan sekadar tradisi, namun simbol persahabatan, kebersamaan, dan identitas budaya masyarakat Bangka Belitung yang harus terus dijaga dari pengaruh globalisasi.

Pada kesempatan tersebut, Kasdim 0431/Babar Mayor Inf Subkhan menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini dan menegaskan dukungan TNI terhadap pelestarian budaya daerah.

“Kami dari TNI AD khususnya Kodim 0431/Babar sangat mendukung kegiatan adat dan budaya seperti ini, karena selain memperkuat persatuan, juga menjadi sarana mempererat silaturahmi antara masyarakat, pemerintah, dan TNI,” ungkapnya.

Melalui kegiatan ini diharapkan terjalin sinergi yang semakin kuat antar seluruh elemen masyarakat dalam menjaga persatuan, keamanan, dan kelestarian budaya lokal.

Sumber : Pendim 0431/Bangka Barat.